RESTORASITV.COM – Masyarakat di tiga dusun Desa Mbulawa, khususnya Dusun Oyu, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, hingga kini masih bergantung pada jembatan gantung dari kayu dan bambu yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
Jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses penghubung antar dusun dan jalur utama menuju sekolah, kebun, serta pusat aktivitas masyarakat.

Saat ini kondisi jembatan sudah mulai rapuh, sempit, dan tidak stabil saat dilalui sehingga itu membahayakan keselamatan warga terutama anak sekolah yang hendak kesekolah SD 18 Rio Pakava.
Sekedar di ketahui, para guru dan siswa harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dan melewati jembatan gantung yang sudah hampir rubuh saat kesekolah. Bahkan, menurut keterangan warga sekitar, pernah terjadi seorang guru SD terjatuh saat melintas.
Kepala SD 18 Rio Pakava, I Wayan Armadha, S.Pd.H., M.Si, menyampaikan bahwa dari seluruh tenaga pengajar, hanya dirinya yang berstatus PNS. Sementara dua guru lainnya, Markus Gulo dan Siprianus Lendi Gellu Ghola, S.Ag, masih berstatus honorer.
Meski menghadapi keterbatasan dan penuh risiko setiap hari, para guru tetap setia mengabdi demi pendidikan anak-anak di wilayah terpencil tersebut.
Honor yang diterima pun sangat minim, sekitar Rp250.000 per bulan, bahkan ada yang hanya Rp125.000 per bulan, yang bersumber dari sekitar 20 persen anggaran sekolah.
Tidak hanya berdampak pada pendidikan, kondisi jembatan juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Hasil kebun, khususnya buah sawit, harus dipikul dan dijunjung satu per satu melewati jembatan tersebut. Jika terdapat 500 janjang sawit, warga harus bolak-balik hingga 500 kali.
Akibatnya, tidak jarang buah menjadi busuk karena lambatnya proses pengangkutan. Berbagai hasil kebun lainnya pun sulit dikeluarkan dari dusun karena keterbatasan akses jembatan dan jalan.
Ketua Adat Oyu, Bapak Arsono, menyampaikan bahwa masyarakat sangat mengharapkan perhatian pemerintah, bukan hanya pembangunan jembatan permanen, tetapi juga penerangan listrik, air bersih, serta akses jalan yang layak.
Kepala Desa Mbulawa, Bapak Erwin, menegaskan bahwa jembatan tersebut sangat vital bagi tiga dusun di wilayahnya.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun provinsi untuk membangun jembatan yang layak demi keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga secara terbuka memohon perhatian pemerintah pusat, termasuk kepada Bapak Presiden Prabowo, agar dapat membantu masyarakat di desa terpencil ini.
“Kami berharap pemerintah mempertahankan dan memperhatikan kami di desa yang masih terpencil ini, agar pembangunan bisa merata dan masyarakat dapat hidup lebih layak dan aman,” tambahnya.
Perwakilan masyarakat, Bapak Sufu, dengan tegas menyatakan bahwa kondisi jembatan saat ini sudah tidak layak digunakan.
“Jembatan ini satu-satunya akses penghubung tiga dusun. Setiap hari anak-anak sekolah, guru, petani, dan warga harus mempertaruhkan keselamatan saat melintas.
Kami hidup dalam rasa waswas. Kalau tidak segera diperbaiki, kami khawatir akan ada korban jiwa. Apakah harus menunggu jatuhnya korban dulu baru ada perhatian?” ungkapnya penuh harap.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak menuntut kemewahan, melainkan hanya meminta akses yang aman dan layak agar aktivitas pendidikan dan ekonomi dapat berjalan tanpa ancaman bahaya setiap hari.
Kini, masyarakat tiga dusun di Desa Mbulawa menaruh harapan besar agar pembangunan infrastruktur segera direalisasikan demi keselamatan, kesejahteraan ekonomi, serta masa depan pendidikan anak-anak di Rio Pakava. *(rtv_tim)
