SULSEL, RESTORASITV.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 15 Agustus 2026 pagi, bukan sekadar peristiwa alam. Di balik reruntuhan bangunan, jalan yang terputus, rumah-rumah yang rusak dan ribuan warga yang mengungsi, ada kehidupan manusia yang seketika berubah.
” Berdasarkan pembaruan informasi LKTB IDI per 15 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat 38 orang meninggal dunia, 23 orang luka-luka, sekitar 2.060 orang mengungsi, serta 1.942 rumah mengalami kerusakan,” sebut Bensislaus aktivis Sosial dan Kemanusiaan di Makassar.
Angka-angka tersebut terlihat sederhana ketika ditulis di atas kertas. Namun sesungguhnya, setiap angka adalah satu kehidupan. Setiap korban memiliki keluarga, memiliki orang-orang yang ncintainya, memiliki cerita dan harapan yang kini terhenti.
Yang membuat duka ini terasa semakin dalam bagi masyarakat NTT adalah besarnya korban dari wilayah Manggarai.
” Manggarai tercatat 16 korban meninggal dunia, Manggarai Timur 17 korban, Manggarai Barat 1 korban, Ngada 1 korban dan Sikka 3 korban,” ujarnya.
SEBANYAK 38 JIWA TELAH PERGI
Di balik angka itu ada orang tua yang kehilangan anak. Ada anak yang kehilangan orang tua. Ada keluarga yang malam, pagi, siang ini mungkin masih mencari tempat berlindung, sementara rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat pulang telah berubah menjadi puing.
BENCANA TAK BOLEH MENGHILANGKAN KEMANUSIAAN
Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan bukan hanya rasa iba, tetapi kehadiran nyata.
Pemerintah, aparat, tenaga kesehatan, relawan, organisasi kemanusiaan dan masyarakat harus bergerak dalam satu irama. Evakuasi, layanan kesehatan, makanan, air bersih, tempat pengungsian, obat-obatan dan perlindungan bagi kelompok rentan menjadi kebutuhan mendesak.
” Kerusakan infrastruktur juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Ketika jalan dan jembatan terputus, bantuan menjadi lebih sulit masuk. Ketika fasilitas kesehatan terganggu, korban luka menghadapi risiko yang lebih besar,” ungkap Beny panggilan akrab dipanggil Aktivis Sosial dan Kemanusiaan.
Karena itu, penanganan bencana tidak cukup berhenti pada penyelamatan korban. Tahap berikutnya adalah memastikan masyarakat dapat kembali berdiri.
Rumah harus dibangun kembali. Sekolah harus kembali dibuka. Tempat ibadah harus kembali menjadi ruang penguatan masyarakat. Perekonomian warga harus dipulihkan.
Sebab korban bencana bukan hanya kehilangan bangunan. Mereka kehilangan rasa aman, kehilangan sumber penghidupan, bahkan mungkin kehilangan arah hidup.
Bagi masyarakat NTT yang berada di perantauan, termasuk keluarga besar NTT di Sulawesi Selatan, tragedi ini menjadi pengingat bahwa jarak geografis tidak boleh memutus tali persaudaraan.
Kita mungkin hidup di kota yang berbeda. Bekerja di tempat yang berbeda. Memiliki kehidupan dan kesibukan masing-masing.
” Tetapi ketika Flores terluka, kita semua dipanggil untuk peduli.
Tidak semua orang dapat datang langsung ke lokasi bencana. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun setiap orang dapat mengambil bagian: melalui doa, informasi yang benar, bantuan kemanusiaan, maupun dukungan kepada lembaga dan relawan yang bekerja di lapangan,” tambah Beny.
Yang terpenting, jangan biarkan penderitaan saudara kita hanya menjadi berita yang lewat di layar telepon.
Hari ini mereka membutuhkan kita.
Jangan Tambahkan Bencana dengan Hoaks.
Di tengah situasi darurat, masyarakat juga harus menjaga satu hal yang tidak kalah penting: informasi.
” Jangan menyebarkan foto, video, jumlah korban atau informasi bantuan yang belum terverifikasi. Jangan memperbesar kepanikan dengan kabar yang tidak jelas sumbernya,” imbaunya.
Dalam keadaan bencana, informasi yang salah dapat sama berbahayanya dengan kondisi di lapangan.
Mari menyebarkan informasi yang benar, membantu sesuai kemampuan dan memberikan ruang bagi petugas serta relawan untuk bekerja.
Gempa mungkin mampu meruntuhkan rumah, merusak jalan dan mengubah wajah sebuah wilayah.
Tetapi gempa tidak boleh meruntuhkan semangat kemanusiaan.
Flores telah melewati banyak ujian. Dan kali ini, masyarakat Flores tidak boleh merasa berjalan sendirian.
Dari Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka dan seluruh wilayah terdampak, pesan yang harus kita kirimkan adalah satu: ‘Anda tidak sendiri’.
Kepada keluarga yang kehilangan orang terkasih, kami menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya. Kepada mereka yang terluka, semoga segera memperoleh kesembuhan.
Kepada saudara-saudara yang masih berada di pengungsian, semoga diberi kekuatan. Dan kepada seluruh relawan, tenaga kesehatan, aparat, pemerintah serta masyarakat yang sedang bekerja di tengah situasi sulit, terima kasih karena telah memilih untuk hadir.
Flores sedang berduka. NTT sedang berduka. Tetapi dalam duka itu, persaudaraan kita sedang diuji.
Mari buktikan bahwa ketika satu bagian dari tanah NTT terluka, seluruh keluarga besar NTT berdiri bersama.
Doa untuk Flores.
Kepedulian untuk korban.
Solidaritas untuk sesama.
Dan harapan untuk bangkit kembali.
*(rtv_Megasari/Yustus)
