SULSEL, RESTORASITV.COM – Ada satu pesan Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng, dalam pembukaan Kongres Nasional PMKRI di Ruteng yang menurut saya layak untuk direnungkan.
Hal ini disampaikan Bensislaus A, SE yang akrab disapa Beny pada media ini, Selasa 11 Agustus 2026 bahwa, Mgr Siprianus mengingatkan kita,” Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan kaum intelektual,” ujarnya.
Nah, persoalan yang lebih mendasar justru menyangkut kualitas manusia yang membangun negeri ini, apakah masih memiliki hati nurani, kepedulian terhadap masyarakat kecil, dan keberanian membela mereka yang tertindas.
Ini pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat dalam bahwa, kita sedang membangun Indonesia dengan manusia yang seperti apa.
” Kita bisa memiliki pendidikan tinggi, jabatan tinggi, teknologi canggih, kekuasaan besar dan kemampuan ekonomi yang luar biasa. Tetapi semuanya bisa kehilangan makna apabila kecerdasan tidak lagi dikendalikan oleh hati nurani,” sebutnya.
Sebab orang pintar tanpa integritas dapat menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan diri sendiri, dan orang berkuasa tanpa hati nurani dapat menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mempertahankan kepentingan dan orang kaya tanpa kepedulian dapat melihat kemiskinan hanya sebagai angka.
Dan bahkan orang beragama pun bisa terjebak dalam seremoni apabila iman tidak diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap sesama.
” Karena itu, tambah Benny mungkin pertanyaan ini juga perlu kita arahkan kepada diri sendiri sebagai komunitas Katolik, apakah pendidikan dan kaderisasi kita selama ini hanya menghasilkan orang-orang yang pintar, atau juga manusia yang memiliki hati nurani,” ungkapnya.
Dan apakah anak-anak muda kita hanya kita persiapkan untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan, atau juga kita bentuk menjadi pribadi yang mampu melihat penderitaan orang lain dan merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.
Apakah ketika umat Katolik masuk ke dunia politik, birokrasi, bisnis, pendidikan dan berbagai profesi, mereka hanya membawa kemampuan profesionalnya, atau juga membawa kejujuran, keberanian moral, solidaritas dan semangat pelayanan?
” Krisis bangsa mungkin bukan karena kita kekurangan orang cerdas. Bisa jadi kita sedang diuji oleh pertanyaan yang lebih mendasar, masihkah kecerdasan kita mempunyai arah moral,” tambahnya.
Dan mungkin inilah panggilan gereja, keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan dan seluruh komunitas umat, bukan sekadar mencetak manusia yang sukses, tetapi membentuk manusia yang ketika sukses tetap mempunyai hati untuk mereka yang belum berhasil.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan manusia bukan hanya seberapa tinggi ia naik, tetapi juga seberapa banyak orang yang ia angkat ketika ia berada di atas.
Jika Indonesia tidak kekurangan orang pintar, manusia seperti apa yang sebenarnya sedang kita butuhkan untuk membangun Indonesia ini.
Benny tokoh agama Katolik mengatakan bahwa, jauh lebih penting daripada sekadar bertanya siapa yang akan berkuasa.
“Karena masa depan bangsa pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh model pembangunan, tetapi terutama oleh manusia yang menjalankan pembangunan itu,” jelasnya.
*(Megasari/Yustus)
