SULSEL, RESTORASITV.COM – Aris Sanda sopir asal Toraja, ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terbakar di jalur Wamena-Mbua, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Peristiwa ini memicu penyelidikan intensif aparat keamanan yang tengah mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk mengungkap kronologi dan pihak yang bertanggung jawab.
Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz bersama Polres Jayawijaya dan Batalyon B Satbrimobda Papua melakukan olah tempat kejadian perkara di Jalan Poros Habema Km 32.
Dari lokasi, polisi menemukan satu selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter serta sebuah tas berisi identitas korban yang kini menjadi barang bukti penting dalam penyelidikan.
Kombes Pol Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, menjelaskan bahwa informasi awal mengarah pada kelompok bersenjata Kodap III Ndugama yang diduga berada di sekitar lokasi kejadian. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut masih harus diverifikasi lebih lanjut.
“Memang ada informasi yang mengarah kepada kelompok Kodap III Ndugama yang berada di sekitar lokasi, namun informasi tersebut masih harus kami dalami dan verifikasi lebih lanjut,” sebut Yusuf via whatsapp, Kamis 17 September 2026.
Kronologi Kejadian dan Klarifikasi Polisi
Peristiwa bermula ketika Aris membawa penumpang melalui jalur Wamena menuju Mbua. Kendaraan yang dikemudikannya sempat dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata. Para penumpang diperintahkan kembali ke arah Wamena, sementara Aris dibawa ke kawasan Danau Habema. Sejumlah penumpang dilaporkan selamat dari insiden tersebut.
Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kepala Penerangan Koops TNI Habema, menyampaikan bahwa Aris dilaporkan menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata.
“Tim kemudian menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudinya,” jelas Wirya dalam keterangannya.
Aparat juga membantah informasi yang menyebut Aris sebagai anggota intelijen aparat keamanan. Yusuf menegaskan bahwa Aris merupakan sopir kendaraan lajuran yang telah menjalankan profesinya selama sekitar 13 tahun di jalur tersebut.
“Kami bisa pastikan bahwa berita yang menyebut sopir lanjuran ini merupakan anggota intel aparat keamanan adalah berita bohong atau hoaks. Sopir tersebut memang bekerja sebagai sopir dan sudah menjalankan pekerjaannya selama sekitar 13 tahun di jalur tersebut,” tegas Yusuf.
Selain itu, Yusuf mengimbau masyarakat khususnya warga Kabupaten Jayawijaya, untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas dan tidak langsung mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Hingga kini, aparat masih mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti untuk mengungkap secara lebih lengkap kronologi kematian Aris Sanda serta mengidentifikasi pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
*(Megasari/Yustus)
