SULSEL, RESTORASITV.COM – Memasuki hari ke-11 pascagempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores dan masih diikuti gempa susulan hingga saat ini, kepedulian masyarakat Manggarai di Sulawesi Selatan kembali diteguhkan.
Dr. Ardah Senaman, Ketua Ikatan Persaudaraan Manggarai Raya (IPMAR) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengundang dan mempertemukan sejumlah tokoh Manggarai dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan dalam sebuah rapat bersama berlokasi di Pore-JK Coffee, Mes Telkom, Jl. A.P. Pettarani, Makassar, Rabu 26 Agustus 2026.
Dalam pertemuan tersebut dihadiri Maximus Jehata Ketua KKM Sulsel, Alfons Jatong Ketua Kerukunan Manggarai Timur, Pius Nalang Ketua KKB NTT (Tokoh Manggarai Timur), serta Petrus Muat sesepuh Manggarai, bersama sejumlah tokoh lainnya.
Rapat secara khusus membahas kondisi masyarakat terdampak bencana gempa Flores, terutama situasi warga yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Para tokoh tersebut mencermati bahwa,” distribusi bantuan dari pemerintah, BNPB, BPBD, lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, dan relawan masih perlu diperkuat agar semakin menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” sebut Arda Senawan.
Atas dasar kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap sesama, peserta rapat kemudian sepakat membentuk struktur kerja yakni, Gerakan Solidaritas IPMAR Sulsel untuk Gempa Flores. Pembentukan tim dilakukan melalui musyawarah dan mufakat.
Untuk diketahui struktur tim yang disepakati adalah adalah, Ketua Pice Jehali, Wakil Ketua: Wencislaus Sirjon Nansi, Sekretaris: Bensislaus dan Bendahara Ambros Jementeng Wakil Bendahara Ratna.
Gerakan ini diharapkan menjadi ruang bersama bagi masyarakat Manggarai di Sulawesi Selatan untuk mengambil bagian secara nyata dalam membantu saudara-saudara yang terdampak bencana di Flores, khususnya di wilayah Manggarai Raya.
Ardah Senaman bersama para tokoh Manggarai yang hadir menyerukan agar seluruh sumber daya masyarakat Manggarai di Sulsel dapat digerakkan secara terorganisasi, terukur, dan bertanggung jawab. Solidaritas tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi diwujudkan melalui kerja kemanusiaan yang nyata.
Sementara ketua terpilih Pice Jehali, menegaskan bahwa, pesan sederhana namun kuat.
Dimana Manggarai adalah rumah kita. Saudara-saudara kita yang hari ini bertahan di tenda pengungsian adalah orang tua, keluarga, dan saudara kita sendiri. Karena itu, mari kita bergerak bersama.
Gerakan Solidaritas IPMAR Sulsel akan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial, pemerintah, dunia usaha, LSM, organisasi mahasiswa, komunitas, serta seluruh pihak di Sulawesi Selatan yang terpanggil untuk membantu.
Dikesempatan tersebut Maximus Jehata Ketua KKM Sulsel menyampaikan bahwa, KKM sebelumnya telah membentuk tim untuk memobilisasi bantuan warga KKM/NTT. Namun, menurutnya kehadiran IPMAR sangat penting untuk memperluas gerakan solidaritas dan memperkuat koordinasi bantuan.
Dan Alfons Jatong, Ketua Kerukunan Manggarai Timur menegaskan bahwa, berbagai upaya komunikasi telah dilakukan melalui komunitas Manggarai Timur. Namun, karena banyak anggota keluarga mereka di kampung masih terdampak dan hidup di tenda pengungsian, diperlukan gerakan bersama yang lebih luas.
Gerakan Solidaritas IPMAR Sulsel diharapkan menjadi gerakan kemanusiaan yang inklusif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan mengedepankan koordinasi agar bantuan yang dihimpun benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kini saatnya bergerak bersama, bergandengan tangan, dan menghadirkan solidaritas dalam bentuk nyata.
*(Megasari/Yustus)
